Kediri — Pemerintah Kota Kediri mencatat prevalensi stunting pada 2026 sebesar 4,4 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 4,6 persen dan masih jauh di bawah target nasional tahun 2026 sebesar 17,5 persen.
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap 16.213 balita, tercatat sebanyak 718 balita mengalami stunting. Meski jumlah kasus secara nominal masih berada di kisaran yang sama dibandingkan tahun sebelumnya, prevalensinya mengalami penurunan seiring bertambahnya jumlah balita.
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mengatakan Pemkot Kediri akan terus memperkuat berbagai program untuk mencegah dan menurunkan angka stunting.
“Untuk tahun ini alhamdulillah angka stunting turun. Jadi di tahun ini kita ada kurang lebih 4,4 persen dan jumlah kasusnya kurang lebih 700-an,” ujar Vinanda usai mengikuti zoom meeting Rakor Pencegahan dan Percepatan Stunting Regional Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Selasa (22/9).
Sejumlah program telah dijalankan, di antaranya pemberian makanan tambahan (PMT), penguatan posyandu, program 3B, Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus 3B, serta bantuan melalui ATM Beras bagi masyarakat yang masuk desil 1 hingga 4.
Pemkot Kediri juga mendorong urban farming di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, dan kelurahan. Hasil panen dari program tersebut diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi masyarakat.
Selain intervensi terkait pangan dan gizi, Pemkot Kediri juga menjalankan rehabilitasi rumah tidak layak huni. Menurut Vinanda, stunting dipengaruhi berbagai faktor dan tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan anak.
“Kita mengetahui bahwa biasanya salah satu faktornya adalah adanya rumah tidak layak huni, ventilasinya kurang dan lain sebagainya. Sehingga kondisi atau kesehatan ibunya sebelum hamil maupun hamil ini juga menjadi faktor adanya angka stunting,” jelasnya.
Vinanda menyebut salah satu tantangan dalam penanganan stunting adalah masih rendahnya pemahaman sebagian calon orang tua mengenai persiapan kehamilan, pemenuhan gizi, hingga kesiapan menjadi orang tua.
Karena itu, Pemkot Kediri akan terus memperkuat edukasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama, khususnya dalam memberikan pemahaman kepada pasangan yang akan menikah.
Sementara itu, Plt Kepala Bappeda Kota Kediri Salim Darmawan mengatakan capaian prevalensi stunting 4,4 persen tersebut berdasarkan pengukuran pada semester pertama 2026.
“718 anak, ini sudah dilakukan pengukuran terhadap 16.213 balita. Yang terindikasi stunting 718, prevalensi stunting 4,4 persen,” kata Salim.
Ia menambahkan, pada 2025 prevalensi stunting Kota Kediri tercatat sebesar 4,6 persen. Dengan demikian, prevalensi pada 2026 turun menjadi 4,4 persen.
Salim mengatakan capaian tersebut juga menunjukkan bahwa prevalensi stunting Kota Kediri berada jauh di bawah target nasional tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 17,5 persen.
“Nilai kita 4,4 dari target nasional 17,5 itu jauh,” pungkasnya.kin/mg
